BANGKA BELITUNG – Abie Ridwansyah mulai mencuat dalam bursa kandidat Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Investigasi Negara (LIN) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Ia membawa gagasan untuk menghidupkan kembali gerakan investigasi, memperkuat fungsi kontrol sosial, serta membangun organisasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Gagasan tersebut diarahkan untuk menjadikan LIN sebagai wadah penyerapan aspirasi, pengawasan terhadap persoalan publik, sekaligus mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum.
Abie menilai, keberadaan organisasi kemasyarakatan harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar memiliki struktur kepengurusan. Karena itu, ia mendorong penguatan konsolidasi internal dan peningkatan aktivitas organisasi hingga ke tingkat kabupaten dan kota.
Dalam sejumlah pemberitaan sepanjang 2026, LIN Babel tercatat terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan masyarakat terkait dugaan kekerasan terhadap anak, pengawalan persoalan pelayanan publik, hingga penyampaian pengaduan mengenai dugaan maladministrasi.
Pada April 2026, DPD LIN Babel juga diberitakan melakukan audiensi dengan DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua DPRD Babel, Edi Nasapta, menyampaikan keterbukaan terhadap kolaborasi lintas lembaga dan berharap kemitraan dapat diwujudkan melalui aksi nyata.
Sementara itu, pemberitaan Januari 2026 menyebutkan DPD LIN Babel di bawah kepemimpinan Ahmad Bustani menerima Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Kesbangpol Babel.
Di sisi lain, dinamika perbedaan klaim kepengurusan di tingkat pusat yang turut diberitakan pada Februari 2026 menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Proses pergantian kepemimpinan di tingkat daerah diharapkan tetap mengacu pada mekanisme organisasi dan legalitas kepengurusan yang berlaku.
Dorong LIN Lebih Dekat dengan Masyarakat
Abie Ridwansyah menyampaikan bahwa keinginannya masuk dalam bursa kandidat Ketua DPD LIN Babel bukan semata-mata untuk mengejar jabatan, melainkan membawa semangat pembaruan dan mengaktifkan kembali peran organisasi di tengah masyarakat.
“Saya maju bukan semata-mata untuk mengejar sebuah jabatan. Saya ingin melihat LIN di Bangka Belitung kembali hidup, bergerak, dan benar-benar dirasakan keberadaannya oleh masyarakat,” ungkap Abie.
Menurutnya, LIN harus menjadi organisasi yang terbuka terhadap pengaduan dan aspirasi masyarakat, sekaligus mampu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi sebelum menyampaikan sikap atau mengambil langkah.
“Ketika ada persoalan, kita dengarkan. Ketika ada informasi, kita verifikasi. Ketika ada kepentingan masyarakat yang perlu dikawal, kita berdiri bersama masyarakat dengan tetap berpegang pada aturan dan etika,” ujarnya.
Ia menegaskan, gerakan investigasi tidak boleh dimaknai sebagai upaya mencari kesalahan pihak tertentu. Sebaliknya, setiap kegiatan pengawasan harus berlandaskan data, fakta, serta proses konfirmasi yang berimbang.
“Kita tidak boleh bekerja dengan prasangka. Investigasi harus berangkat dari data, fakta, dan keberanian untuk melakukan cross-check. Kritik harus disampaikan dengan dasar yang jelas, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mencari solusi dan memastikan kepentingan masyarakat tidak terabaikan,” tegasnya.
Bangun Sinergi Tanpa Kehilangan Sikap Kritis
Dalam gagasannya, Abie juga menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kemitraan dengan pemerintah daerah, DPRD, TNI, Polri, kejaksaan, instansi vertikal, BUMN, dunia usaha, media, serta berbagai elemen masyarakat.
Menurutnya, sinergi antarlembaga diperlukan untuk membuka ruang komunikasi dan mendorong penyelesaian persoalan publik secara konstruktif. Namun, kemitraan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan independensi dan fungsi kontrol sosial organisasi.
“Saya ingin LIN menjadi mitra yang kritis, tetapi tetap santun. Kita harus mampu bersinergi dengan pemerintah daerah, DPRD, TNI, Polri, kejaksaan, instansi vertikal, BUMN, dunia usaha, media, dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, sikap kritis tidak harus menghambat komunikasi. Setiap kritik, menurutnya, harus disertai bukti dan disampaikan melalui mekanisme yang tepat agar dapat menjadi bahan evaluasi dan perbaikan.
“Sinergi bukan berarti kehilangan sikap kritis. Kalau ada yang perlu dikritisi, kita kritik berdasarkan fakta. Kalau ada program pemerintah yang baik, kita dukung. Kalau ada masyarakat yang membutuhkan pengawalan, kita hadir,” lanjutnya.
Perkuat Organisasi hingga Kabupaten dan Kota
Abie juga mendorong penguatan jaringan LIN Babel hingga ke tingkat kabupaten, kota, desa, dan kelurahan. Langkah tersebut dinilai penting agar organisasi dapat mengetahui berbagai persoalan masyarakat secara langsung dan meresponsnya secara tepat.
Ia menilai, persoalan pelayanan publik, sosial, ekonomi, lingkungan, pembangunan, hingga hukum membutuhkan perhatian dan pengawasan bersama.
“Saya ingin LIN punya energi baru. Kita hidupkan organisasi ini dari bawah. Jangan hanya ada nama dan struktur, tetapi harus ada kegiatan, ada kerja nyata, dan ada manfaat yang dirasakan masyarakat,” tuturnya.
Abie menyatakan, penguatan organisasi harus dilakukan melalui kebersamaan, pembagian peran yang jelas, serta komitmen menjaga integritas seluruh pengurus.
“Kalau saya diberi amanah, saya ingin membangun LIN dengan kebersamaan. Tidak ada istilah satu orang paling hebat. Yang ada adalah satu organisasi, satu semangat, dan satu tujuan, yakni bagaimana LIN bisa memberikan manfaat bagi Bangka Belitung,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat melalui sikap profesional, tidak mudah melontarkan tuduhan, serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Menurutnya, integritas merupakan salah satu fondasi penting bagi organisasi yang menjalankan fungsi pengawasan. Setiap laporan maupun temuan harus ditangani secara cermat, mengedepankan asas praduga tak bersalah, serta menghormati ketentuan hukum yang berlaku.
Harapkan Konsolidasi dan Pembaruan Organisasi
Menghadapi dinamika kepengurusan, Abie berharap bursa kandidat Ketua DPD LIN Babel dapat menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi internal dan menyatukan visi organisasi.
Ia menegaskan bahwa penguatan LIN harus diarahkan pada kegiatan yang terukur, pengawasan yang bertanggung jawab, serta peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi.
“Saya ingin LIN menjadi sahabat masyarakat sekaligus mitra strategis pemerintah dan aparat penegak hukum. Kita bisa berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu memutus komunikasi,” ujarnya.
Abie berharap LIN Babel dapat menjalankan peran sebagai organisasi yang berani menyampaikan aspirasi masyarakat, tetapi tetap mengedepankan fakta, etika, dan penghormatan terhadap hukum.
“LIN Babel harus bangkit. Bukan bangkit untuk berhadapan dengan siapa pun, tetapi bangkit untuk memberikan manfaat. Kita hidupkan kembali semangat investigasi, kita jaga marwah organisasi, kita kuatkan sinergi, dan kita buktikan bahwa LIN bisa hadir untuk masyarakat,” pungkasnya.
Meski demikian, pencalonan Abie Ridwansyah masih menjadi bagian dari dinamika bursa kepemimpinan. Penetapan ketua definitif tetap bergantung pada mekanisme dan keputusan organisasi sesuai ketentuan yang berlaku.(*)





