NAGEKEO, Reviewindonesia.ID — Di usia 76 tahun, ketika sebagian orang berharap dapat menikmati hari-hari bersama keluarga, Murtiani justru masih menjalani hidup seorang diri di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Perempuan yang telah puluhan tahun tinggal di Nagekeo itu kini hanya menyimpan satu keinginan sederhana, pulang ke Surabaya dan bertemu kembali dengan keluarganya sebelum usia senja benar-benar berakhir.
Murtiani pertama kali datang ke Mbay sekitar tahun 1981. Saat itu, ia berada di wilayah tersebut untuk mengikuti proyek pembukaan Kali Baru di Mbay.
Namun, perjalanan hidup membuatnya menetap jauh dari tanah kelahiran dan keluarganya. Tahun berganti tahun, komunikasi dengan keluarga di Surabaya terputus begitu lama.
Kini, ketika usia semakin lanjut, kerinduan untuk kembali ke Surabaya semakin kuat.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, keluarga Murtiani berada di kawasan Pasar Nanggungan, Japanan, Surabaya, dengan alamat yang disebut berada di Raos Baru, Carat, Gang 12.
Sempat Terhubung, Namun Kepulangan Tak Kunjung Terwujud
Harapan Murtiani untuk kembali berkumpul dengan keluarga sempat terbuka beberapa pekan lalu.
Setelah puluhan tahun kehilangan komunikasi, ia akhirnya berhasil menghubungi keluarganya di Surabaya.
Namun, persoalan biaya menjadi kendala. Keluarga disebut belum memiliki kemampuan ekonomi untuk menjemput Murtiani dari Nagekeo.
Upaya mengumpulkan biaya bersama sempat dilakukan. Sayangnya, hingga kini komunikasi dengan pihak keluarga kembali terputus dan kepastian kepulangannya belum terwujud.
Bagi Murtiani, perjalanan menuju Surabaya bukan sekadar perjalanan antardaerah. Itu adalah perjalanan untuk kembali menemukan keluarga setelah puluhan tahun hidup berjauhan.
Bertahan dari Kepedulian Tetangga
Di Nagekeo, Murtiani menjalani kehidupannya dalam kondisi serba terbatas.
Suaminya telah meninggal dunia pada 2019. Sejak saat itu, ia praktis menjalani hari-harinya seorang diri.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Murtiani banyak bergantung pada kepedulian warga sekitar. Makanan yang dikonsumsinya kerap berasal dari pemberian tetangga.
Tidak ada keluarga yang setiap hari berada di sisinya. Ketika tubuh mulai melemah, ia harus mengandalkan kepedulian orang-orang di sekelilingnya.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan Murtiani bukan hanya tentang keinginan untuk pulang, tetapi juga tentang bagaimana seorang perempuan lanjut usia dapat menjalani sisa hidupnya dengan aman, layak dan bermartabat.
Berteduh di Posko Mandiri Pascagempa
Kondisinya semakin berat setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah Nagekeo.
Ketika kondisi rumah tidak lagi memberikan rasa aman, Murtiani harus mencari tempat untuk berlindung.
Ia kemudian menempati sebuah posko mandiri yang dibangun oleh tetangganya. Tempat sederhana tersebut menjadi ruang bagi Murtiani untuk berteduh sekaligus menjalani hari-harinya.
Bagi seorang perempuan berusia 76 tahun, situasi tersebut tentu bukan kondisi ideal untuk menghabiskan masa tua.
Namun, keterbatasan pilihan membuat Murtiani tetap bertahan sembari menunggu adanya jalan keluar.
Negara, Pemerintah dan Keluarga Perlu Hadir
Kisah Murtiani seharusnya tidak berhenti sebagai cerita tentang kesepian seorang warga lanjut usia.
Kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa kelompok lanjut usia yang hidup tanpa pendamping membutuhkan perhatian nyata, terutama ketika menghadapi persoalan tempat tinggal, kebutuhan dasar dan akses untuk kembali berkumpul dengan keluarga.
Harapan Murtiani sebenarnya sederhana.
Ia tidak meminta kemewahan. Ia hanya ingin pulang ke Surabaya, bertemu keluarganya dan menjalani sisa hidup di tengah orang-orang yang memiliki ikatan darah dengannya.
Puluhan tahun telah ia lewati jauh dari keluarga. Kini, waktu menjadi semakin berharga.
Karena itu, dibutuhkan langkah nyata dari berbagai pihak untuk memastikan kisah Murtiani mendapatkan jalan keluar. Pemerintah daerah, instansi sosial, pemerintah desa, masyarakat serta pihak terkait dapat berkoordinasi untuk menelusuri keberadaan keluarganya dan mencari solusi yang aman serta bermartabat apabila kepulangannya memungkinkan.
Sebuah Jalan Pulang untuk Murtiani
Murtiani mungkin telah kehilangan banyak hal selama puluhan tahun hidup jauh dari keluarga. Namun, satu hal yang belum hilang adalah harapannya untuk pulang.
Di balik usia senjanya, masih ada kerinduan untuk melihat wajah keluarga yang telah lama terpisah.
Kini pertanyaannya bukan lagi sekadar “kapan Murtiani pulang?”, tetapi “siapa yang akan membantu membuka jalan agar keinginannya untuk kembali kepada keluarga dapat terwujud?”
Sebab bagi Murtiani, perjalanan menuju Surabaya bukan sekadar perjalanan pulang.
Itulahperjalanan menuju keluarga, tempat yang selama puluhan tahun hanya bisa ia rindukan.(*)
